Pariwisata Jangan Merusak Budaya

Dari Program “Anak Bangsa” SWiB 106,8 FM

Dialog interaktif "Anak Bangsa" Radio Suara Widya Besakih atau SWiB Karangasem (Kelompok Media Bali Post) bersama Bagus Bali 2013 I Gede Wiswara Putra (24) (kanan) dan runner up I Jegeg Bali Ni Luh Putu Lilyk Rahmawati (19).

Dialog interaktif “Anak Bangsa” Radio Suara Widya Besakih atau SWiB Karangasem (Kelompok Media Bali Post) bersama Bagus Bali 2013 I Gede Wiswara Putra (24) (kanan) dan runner up I Jegeg Bali Ni Luh Putu Lilyk Rahmawati (19).

Pariwisata telah menjadi tumpuan perkembangan Bali. Pariwisata tumbuh begitu masif tidak terlepas dari budaya masyarakat Bali, yang terbuka menerima perkembangan pariwisata. Sayangnya, belakangan perkembangan pariwisata yang begitu pesat justru semakin mengikis budaya yang telah terbangun bertahun-tahun oleh masyarakat Bali ke jurang kehancuran. 

Demikian terungkap dalam dialog interaktif “Anak Bangsa” Radio Suara Widya Besakih atau SWiB Karangasem (Kelompok Media Bali Post) bersama Bagus Bali 2013 I Gede Wiswara Putra (24) dan runner up I Jegeg Bali Ni Luh Putu Lilyk Rahmawati (19), Minggu (19/4). Sebagai duta wisata, Ia melihat harus ada upaya-upaya konkret yang dilakukan untuk menjaga pariwisata dan budaya tetap ajeg di Bali. “Untuk menjaga aset budaya kita tetap ajeg, pariwisata harus berbasis budaya. Bukan budaya pariwisata,” tegas Bagus Bali satu-satunya dari Karangasem ini.

Pariwisata berbasis budaya, artinya pariwisata dituntut mampu memperkuat keberadaan budaya masyarakat Bali dari dampak-dampak negatif perkembangan pariwisata yang mengancam keajegan budaya. Namun, yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Budaya tereksplorasi untuk perkembangan pariwisata secara membabi buta tanpa disadari mayoritas masyarakat Bali. Akibatnya, keajegan budaya di Bali semakin terkikis. Situasi itu terjadi akibat rendahnya kemampuan mem-filter dampak negatif dari pariwisata.

“Perkembangan sektor pariwisata sebagai pendorong perkembangan ekonomi daerah, jangan mengarahkan komersialisasi alam dan budaya secara negatif. Ini jelas berbahaya,” kata pemuda asal Desa Bugbug ini. Ia menegaskan, pengembangan pariwisata harusmenjadi bagian integral pembangunan nasional hingga daerah, sistematis, terpadu, dan berkelanjutan serta bertanggung jawab. Namun, pariwisata harus dengan tetap memberi perlindungan kepada nilai-nilai agama dan budaya yang tumbuh di masyarakat.

Sementara itu, menurut rekannya runner up I Jegeg Bali 2013, Ni Luh Putu Lilyk Rahmawati, selain berpegang tegus pada budaya, objek dan daya tarik wisata (ODTW) Bali khususnya Karangasem harus terus berbenah, agar mampu memenuhi unsur-unsur dalam sapta pesona, yakni; aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah tamah dan kenangan. “Jangan hanya mengeksploitasi potensinya saja. Tapi, yang terpenting setiap ODTW harus memenuhi unsur sapta pesona. Pemerintah daerah harus mampu membuat ODTW itu pantas dikunjungi,” ujar alumni SMAN 2 Amlapura ini. Kedua “Anak Bangsa” yang diundang khusus oleh SWiB ini, melihat Karangasem memiliki potensi pariwisata cukup besar.

Hanya saja, potensi itu menjadi memudar, lantaran cukup banyak potensi ODTW-nya tidak memenuhi unsur sapta pesona. Sebagai generasi muda, keduanya menekankan, agar perkembangan pariwisata dan ancaman terhadap budaya dapat disadari sedini mungkin oleh generasi muda. Dengan demikian, generasi muda akan menjadi salah satu bagian penting dalam proses filter dampak negatif dari perkembangan pariwisata. (*)

Advertisements
This entry was posted in Program Anak Bangsa. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s