Baru Opening, Villa Taman Ujung sudah Bermasalah

“Karyawan sering dimarahi dan disuruh bekerja tidak sesuai tugasnya. Bahkan, yang membuat saya mengelus dada, karyawan dilarang minum air galon dan diminta minum air keran,” jelas Direktur Utama IMT Wayan Suarta.

image

Puluhan karyawan di Vila Taman Ujung Karangasem bergolak. Penyebabnya, sudah dua bulan mereka tidak menerima gaji. Setelah ditelusuri, ternyata pihak manajemen dinilai tak mampu memberikan gaji sesuai kontrak dengan karyawan. Puluhan karyawan itu akhirnya memilih mogok kerja, Senin (30/11/2015), dan mengadu ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Karangasem.

Ketegangan sudah terlihat dari lobi villa yang berlokasi persis di utara Taman Sukasada Ujung ini. Nampak Wakil Owner Villa Taman Ujung A.A. Ayu Mahesarani pusing mengurus tunggakan gaji sekitar 80 karyawan dari berbagai bagian. Sejumlah personil polisi dan Babinsa juga nampak melakukan pengamanan. Wakil Owner yang juga Perbekel Desa Abang ini, mengakui kekacauan pengelolaan vila ini. Ia mengatakan awal masalah terjadi ketika pihak pengelola menerapkan sistem gaji yang belum mendapat persetujuan seluruh owner. “Saya baru tahu gaji karyawannya besar-besar seperti ini, setelah mendapat salinan rincian gaji karyawan. Pantas saja, pengelola tidak bisa bayar, karena tamu kebetulan juga lagi sepi,” kata Ayu Mahesarani.
Gaji puluhan karyawan setempat bervariasi, sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawabnya. Mulai dari Rp 1,5 juta, Rp 1,7 Juta, Rp 2 juta hingga Rp 4 juta dan Rp 7 juta. Dengan gaji sebesar itu, rupanya pihaknya pengelola, IMT (Intermediary Multi Tourism), dikatakan tak bisa memenuhi gaji karyawan yang ditetapkan tanpa sepengetahuan owner. Sebab, sejak opening awal Agustus, tingkat hunian dikatakan sangat kecil. Ayu Mahesarani menyampaikan dari 33 kamar, hanya berisi tamu empat sampai lima kamar. Setelah mengetahui protes karyawan dan gagalnya pengelolaan dari pihak IMT, pihak Owner, kata Ayu Mahesarani, mengambil langkah tegas melakukan pemutusan hubungan kerja dengan pihak pengelola IMT, pada 16 Nopember lalu.
Sedangkan, tunggakan gaji yang sebelumnya menjadi tanggung jawab pihak pengelola, diambil alih pihak owner. Namun, pihak karyawan tetap tidak puas. Karena besaran gaji yang dibayarkan tidak sesuai dengan isi kontrak awal dengan pihak pengelola IMT. Pihak karyawan sempat bersitegang dengan pihak owner Senin kemarin, mempertanyakan dasar apa yang dipakai owner untuk memberikan besaran gaji karyawan secara sepihak. Ayu Mahesarani meminta agar para karyawan mengerti situasi villa yang baru beroperasi, sehingga tidak bisa membayar penuh. Besaran gaji ditetapkan sesuai UMK Karangasem. Namun, pihak karyawan tetap tidak mau menerima dan memilih mengadukan pengelolaan villa ke Disnakertrans. Sebab, selama bekerja disana, salah satu karyawan menilai tingkat hunian sebenarnya cukup ramai.
Kondisi demikian diakui salah satu karyawan setempat, Wayan Widiastra. Karyawan asal Manggis di bagian pront office ini mengaku gaji Oktober dan Nopember belum dibayar. Ia mengaku wajar bila puluhan karyawan melakukan protes. Sebab, mereka juga butuh uang untuk menenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan keluarga. Dipihak lain, Kepala Disnakertrans I Gusti Nyoman Arya Sulang ditanya masalah ini, mengaku belum tahu. Namun, pihaknya mengaku akan segera menurunkan tim ke Villa Taman Ujung untuk mempelajari masalah ini. Salah satunya, mendalami isi kontrak kerja antara karyawan dengan pihak pengelola.
Bila pihak pengelola atau owner melakukan wanprestasi, apa yang akan dilakukan Disnakertrans?, ditanya demikian Arya Sulang memilih bersikap hati-hati. Ia mengaku tidak mau berandai-andai, sebelum mengetahui duduk persoalan sebenarnya. Jelasnya, ada atau tidak pengaduan ke kantornya, pihaknya memastikan timnya akan segera turun melakukan pendalaman. Untuk diketahui, villa ini sudah beroperasi sejak awal Agustus lalu. Bertindak sebagai owner adalah  A.A Ketut Suryacandra. Sedangkan posisi pengelola dari IMT, bertindak sebagai Komisaris Utama A.A Bagus Surya Mataram dan sebagai Direktur Utama I Wayan Suarta.

 

IMT Sebut Owner Banyak Merecoki Pengelolaan

Pihak pengelola dari IMT (Intermediary Multi Tourism) membantah tudingan wakil owner Villa Taman Ujung A.A Ayu Mahesarani. Direktur Utama IMT Wayan Suarta, dihubungi, Senin (30/11/2015), menegaskan masalah ini bukan karena IMT tidak bekerja profesional, melainkan karena masalah pengelolaan terlalu banyak direcoki oleh pihak owner, khususnya Ayu Mahesarani ini. Bahkan, gaji karyawan dua bulan terakhir tidak terbayarkan, juga disebut gara-gara wakil owner yang tidak mau mendatangani cek pencarian gaji karyawan.
Menurut Suarta, sebenarnya puluhan karyawan hotel mau menerima bila tidak mendapatkan gaji penuh. Sebab, diakui villa baru opening pasti butuh waktu untuk berkembang dan merebut pasar kerja. Namun, pihaknya kecewa dengan sikap Ayu Mahesarani yang terlalu banyak merecoki masalah pengelolaan villa cukup megah itu. Mulai dari masalah pengelolaan keuangan, pengiriman barang-barang yang dibutuhkan villa, hingga makan dan minum karyawan. “Karyawan sering dimarahi dan disuruh bekerja tidak sesuai tugasnya. Bahkan, yang membuat saya mengelus dada, karyawan dilarang minum air galon dan diminta minum air keran,” jelasnya.
Suarta menilai seharusnya owner tidak boleh merecoki pengelolaan. Owner hanya tinggal menerima profit (keuntungan) dari pengelolaan villa. Tetapi yang terjadi, owner khususnya wakil owner itu justru ingin mengambil alih pekerjaan pengelola, hingga masalah ini sempat dimediasi pihak kepolisian karena terus terjadi gejolak diantara karyawan. Suarta mengakui, pihak kepolisian dari Polsek Kota Karangasem sempat melakukan mediasi dua kali, untuk meredam gejolak karyawan. Tetapi, wakil owner itu, kata dia, tetap ngotot ingin terlibat dalam pengelolaan. Sehingga, terjadilah pemutusan kontrak kerja dengan IMT yang membuat karyawan makin bergejolak.
“Anak-anak (karyawan) tahu, siapa yang membuat pengelolaan villa ini jadi kacau,” tegasnya. Disinggung pengelolaan oleh IMT justru merugi, Suarta juga membantah. Sebenarnya untuk opening yang baru 1,5 bulan, respons masyarakat dan wisatawan cukup bagus. Setidaknya, untuk gaji seluruh karyawan sudah cukup. Tetapi, ketika hasil pengelolaan ini hendak dipakai untuk menggaji karyawan, wakil owner, kata dia, justru mengklaim uang dalam rekening adalah miliknya. Sejak saat itulah IMT tidak mau lagi melanjutkan pengelolaan villa seluas lebih dari satu hektar diatas Taman Sukasada Ujung itu.
Ditanya soal solusi, Suarta menegaskan tidak ada jalan lain, mengembalikan prinsip-prinsip pengelolaan kepada pihak pengelola tanpa ada upaya merecoki dari pihak wakil owner. Menurutnya, hal itu masih memungkinkan terjadi, demi nasib 80 karyawan setempat. Pihak IMT kata dia, sudah mengumpulkan sejumlah dokumen dan akan segera menyampaikan masalah ini kepada pihak owner A.A Ketut Suryacandra yang berada di Jakarta. Untuk diketahui, IMT juga melakukan pengelolaan beberapa akomodasi pariwisata seperti villa dan hotel di Sanur dan Seminyak. Disana ditegaskan tidak ada masalah, karena antara pengelola dan owner tahu tanggung jawab dan batasan. BP – SWiB (Tim Liputan)

Advertisements
This entry was posted in FOKUS KARANGASEM. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s