Bangkitkan Patriotisme “Pertempuran Tanah Aron”

Kolaborasi Cak Kolosal dan Genjek dalam HUT RI ke -70

Dalam pementasan tersebut, diceritakan Gusti Ngurah Rai harus mengatur siasat jitu bersama pejuang lainnya pak Kolar dan pak Sur untuk menaklukan serangan penjajah belanda. Dalam suasana pasar yang ramai, tiba-tiba datang mata-mata belanda yang merasa diri kuat karena menjadi budak belanda. Mereka membuat kegaduhan di pasar, dagangan diobrak-abrik bahkan dirampas.

20151213_132624

KOLOSAL – Sebagian penari menampilkan tarian khas cak kolosal diawal pementasan.

Kegiatan seremonial peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI di Lapangan Tanah Aron Amlapura, Karangasem, mendadak menjadi panggung pertunjukkan bagi kesenian khas Karangasem, berupa genjek berkolaborasi dengan cak kolosal. Genjek yang semakin sepi peminat, dikemas menjadi pertunjukkan spektakuler kala dikolaborasikan dengan cak kolosal, garapan Kodim 1623/Karangasem dengan siswa SMA di Karangasem. Lakon pertempuran tanah aron yang dipentaskan mampu membangkitkan semangat nasionalisme dan patriotisme.

Cak kolosal dan genjek ini, tampil usai apel bersama dilapangan itu. Tampil dengan tema perjuangan, sebanyak 125 penari cak kolosal bersama 25 penari lainnya sebagai pemeran setiap tokoh pejuang, mampu membawakan dengan apik seni kolosal yang terinsipirasi dari kisah heroik pertemuan tanah aron pimpinan I Gusti Ngurah Rai, saat melawan penjajahan belanda. Penata gerak Made Suradnyani, mengatakan kolaborasi cak kolosal dan genjek ini, untuk membangkitkan nilai-nilai perjuangan I Gusti Ngurah Rai ketika merebutkemerdekaan kepada generasi saat ini. “Kolaborasi ini kami ambil tema perjuangan. Nilai-nilai perjuangan para pendahulu kita perlu ditanamkan kepada generasi saat ini,” katanya.

Dengan tampilan kesenian kolosal ini, masyarakat lebih mudah mencerna betapa sulitnya para pejuang dahulu menghadapi zaman penjajahan guna merebut NKRI dan mempertahankannya. Generasi saat ini adalah tulang punggung bangsa sebagai penerus pembangunan. Lewat seni kolosal ini, pihak Kodim 1623/Karangasem ingin membangkitkan semangat nasionalisme dan patriotisme. Dalam pementasannya, para pemeran menunjukkan bagaimana sulitnya perjuangan I Gusti Ngurah Rai menghadapi modernisasi senjata belanda yang kala itu membabibuta menyerang Bali.

Dalam pementasan tersebut, diceritakan Gusti Ngurah Rai harus mengatur siasat jitu bersama pejuang lainnya pak Kolar dan pak Sur untuk menaklukan serangan penjajah belanda. Dalam suasana pasar yang ramai, tiba-tiba datang mata-mata belanda yang merasa diri kuat karena menjadi budak belanda. Mereka membuat kegaduhan di pasar, dagangan diobrak-abrik bahkan dirampas. Dalam suasana mencekam, kehidupan masyarakat Bali sudah semakin tidak aman. Dalam situasi itu, Caraka melarikan diri dan melaporkan kepada I Gusti Ngurah Rai bahwa belanda datang ke Desa Poh Tanah Aron, ditengah situasi masyarakat ketakutan.

Akhirnya, dengan strategi brilian Gusti Ngurah Rai, serta keberanian dan tekad bulat pasukannya, Gusti Ngurah Rai dan pasukan ciung wanara berhasil menumpas penjajahan belanda dari bumi persada nusantara. Pasukan belanda dikepung dari segala penjuru, dan ketika senjata apinya tak bisa digunakan lagi, seluruh pasukan berbambu runcing langsung menyerang hingga merobohkan penjajah belanda yang tidak berdaya. “Merdeka…… !,” pekik pemeran Gusti Ngurah Rai dalam seni kolosal ini. Masyarakat pun kembali larut dalam suasana kemerdekaan.

Made Suradnyani menambahkan, seni kolosal ini hanya dipersiapkan selama seminggu. Meski persiapan yang mepet, seluruh pemeran mempersiapkan diri dengan serius, untuk menampilkan sesuatu yang berbeda dihari peringatan proklamasi kemerdekaan RI ke-70 dari tahun-tahun sebelumnya. Mereka antara lain ada dari unsur anggota TNI dan para siswa SMA diseluruh Karangasem.  Seni kolaborasi cak kolosal dan genjek ini cukup mampu menyedot perhatian masyarakat sekitar. Selain karena tampil spektakuler, juga menarik dan menghibur penonton. Rencananya, jika respons pelaksanaan tahun ini cukup bagus, maka tahun depan akan ditampilkan seni kolosal dengan penampilan yang lebih spektakuler dengan tema perjuangan yang berbeda. Tujuannya, untuk membangkitkan semangat nasionalisme dan patriotisme generasi saat ini.

Eksplorasi Kesenian Khas Karangasem

Made Suradnyani, S

KOLOSAL – Sebagian penari menampilkan tarian khas cak kolosal diawal pementasan.

Karangasem memiliki segudang kesenian khas. Namun, minimnya panggung untuk tampil, membuat beragam kesenian khas Karangasem tak kunjung berkembang. Ragam potensi kesenian khas Karangasem harus diekplorasi dengan melibatkan lebih banyak seniman, untuk menciptakan bentuk kesenian yang lebih kekinian. Sehingga, bisa terus berkembang dan dinikmati masyarakat.

Hal itu disampaikan Made Suradnyani, S.Sos, penata gerak sekaligus pembuat narasi dalam kesenian kolaborasi Cak Kolosal dengan Genjek. Perpaduan dua kesenian Bali ini, menciptakan seni kolosal yang mampu menyedot perhatian masyarakat Karangasem, ketika tampil usai pelaksanaan upacara peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-70 di Lapangan Tanah Aron, Amlapura. “Kalau di Karangasem, masih banyak yang bisa kita eksplorasi. Butuh lebih banyak orang yang peduli dengan nasib kesenian kita untuk menggarapnya agar seterusnya tetap dapat dilestarikan,” kata PNS yang bertugas sebagai Kabid Seni Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Karangasem ini.

Ia bersyukur, kolaborasi Cak Kolosal dengan Genjek mendapat apreasiasi dari berbagai kalangan. Namun, Suradnyani sudah sering terjun menggarap kesenian dipanggung, mengaku ingin menampilkan yang lebih spektakuler, jika tahun depan kesenian seperti ini mendapat ruang dalam peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI tahun depan.

Sebelumnya, saat penutupan pameran potensi pembangunan, Ia juga menggarap genjek kolosal, yang berhasil tampil paling memukau dengan melibatkan 375 orang penari genjek, sesuai HUT Kota Amlapura ke-375. Genjek kolosal ini dipersiapkan cukup matang dengan melibatkan penari dari seluruh kecamatan. Pementasan genjek kolosal ini, mengambil judul Amla Raja: Cikal Bakal Kerajaan Karangasem. Penampilan kesenian ini untuk melestarikan genjek, sebagai kesenian khas Karangasem,  dimana idenya muncul dari dirinya dan digarap bersama Ida Wayan Oka Adnyana, Ketua Listibya (Majelis Pertimbangan dan Pembinaan Kebudayaan) Karangasem. Selain itu, juga melibatkan seniman lain, seperti penata genjek Komang Nisma dan Dewa Putu Punia. Sementara, untuk koreografernya, dikemas dengan apik oleh Komang Bagus Yuliarsana.

Advertisements
This entry was posted in TRADISI. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s